70 Persen Korban Jiwa di dalam Kawasan Gaza Perempuan serta Anak, Deretan Perempuan Hal ini Ajak Terus Suarakan Palestina
Berita Terbaru Hari Ini – Melex.id Hingga pada saat ini serangan yang digunakan diadakan oleh tanah Israel ke Palestina masih terus berlangsung. Banyak gedung luluh lantah dibombardir kemudian ribuan jadi korban jiwa. Sementara, sorotan dari berbagai media, teristimewa media internasional juga semakin berkurang.
Merespons hal tersebut, Direktur Utama Adara Relief Internasional, Ir. Maryam Rachmayani, S.Th., M. M., mengundang seluruh pihak untuk terus menyuarakan Palestina. Ia memohonkan penduduk jangan pernah bosan terlebih berhenti menyuarakan hingga penjajahan itu berakhir.
“Jangan pernah bosan apalagi berhenti hingga penjajahan itu berakhir, akibat ‘your silence is killing’. Diamnya kita, berarti merestui genosida yang tersebut sedang terjadi di area Gaza,” kata Maryam.
Maryam mengungkapkan bahwa genosida negara Israel pada Daerah Gaza terjadi lantaran dunia telah terjadi lama mengabaikan Palestina. Padahal, isu kemanusiaan dalam Palestina adalah tanggung jawab bersama, khususnya dikarenakan anak lalu perempuan menjadi pihak paling rentan sekaligus sasaran utama penjajah negeri Israel di setiap agresi maupun kebijakan penjajahannya.

“Bahkan jikalau agresi telah lama berhenti sejenis sekali hari ini pun, dunia masih miliki utang untuk Wilayah Gaza dan juga Palestina. Agresi tidak semata-mata telah dilakukan mengakibatkan korban kematian sebanyak lebih lanjut dari 15.000 jiwa, termasuk sekitar 6.000 anak lalu 4.000 perempuan, tetapi juga meninggalkan berbagai luka fisik maupun psikis yang mana membutuhkan pemulihan di jangka panjang. Selain itu, ribuan anak telah terjadi menjadi yatim juga piatu baru juga perempuan-perempuan menjadi janda, di tempat sedang kondisi Jalur Daerah Gaza yang hancur lebur lalu perekonomian berhenti total,” tutur Maryam.
Dalam Peringatan Solidaritas Internasional untuk Palestina ini, Maryam mengungkapkan bahwa pihaknya merilis kegiatan ‘Bangun Kembali Gaza’.
”Kami berikrar untuk mendirikan kembali Daerah Gaza dengan mendirikan klinik kesehatan, pusat bantuan untuk keperluan anak juga perempuan, juga taman bermain anak. Selain itu, 2.000 yatim akan mendapatkan kesempatan melanjutkan masa depannya mealui kegiatan Dekap Yatim Palestina, 1.000 penghafal Al Qur’an setiap tahun akan dilahirkan dari Kawasan Gaza melalui acara HAQ (Hidupkan Ahlul Qur’an).”
Dr. Rabab Awadh, sekretaris Global Woman Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP), menyampaikan bahwa peran perempuan sangat penting pada membela juga menyuarakan Palestina.
“Saudariku bentuklah generasi, kita harus fokus pada sekolah generasi anak-anak kita, mereka itu harus tahu sejarah serta fakta mengenai apa yang dimaksud terjadi ketika ini di area Palestina. Kita harus memainkan peran penting ini. Anak-anak kita ketika ini dengan izin Allah kelak akan menjadi generasi pembebas yang berkontribusi pada terwujudnya kemerdekaan Palestina yang waktunya hanya sekali berjarak dua ujung busur panah bahkan lebih banyak dekat dari itu (sudah bukan lama lagi),” kata dia.
Berbicara menghadapi nama Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsa (KPIPA), Nurjanah Hulwani menyatakan bahwa kejahatan penjajah zionis harus dilawan dengan segala kekuatan yang tersebut dimiliki. Ia mengaskan lebih banyak dari 14 ribu yang mana meninggal dalam Gaza, 70 persen nya adalah perempuan dan juga anak pada waktu 1,5 bulan, ini adalah bentuk kejahatan kemanusian terbesar yang digunakan dijalankan penjajah zionis Israel.
“Kita perempuan Indonesia harus terus menyuarakan serta membuktikan pembelaan kita terhadap Palestina dengan menghimpun kekuatan yang digunakan kita miliki yaitu kekuatan politik, kekuatan media dan juga kekuatan dana.” ujarnya, “semoga dengan kekuatan2 yang disebutkan kita mampu mengempiskan penderitaan perempuan serta anak Palestina.”
Sementara itu, Bunda Romi menyatakan bahwa program-program pemulihan Daerah Gaza pasca agresi sangat penting, khususnya bagi anak dan juga perempuan yang digunakan menjadi sasaran Israel, “Anak-anak juga perempuan harus dilindungi, sebab mereka itu adalah penerus bangsa.”
ia menegaskan, “kita sanggup membantu penduduk di dalam Palestina, tidaklah semata-mata dari sisi kondisi tubuh fisik ilmu kedokteran tapi secara psikologis kita bisa saja membantu mereka, menghilangkan trauma, membantu perempuanperempuan yang dimaksud merasa telah mengalami sejumlah hal pada hidupnya agar dia dapat meninggalkan dari perasaan cemas dan juga rasa tidak ada nyaman ini, melalui konseling online atau apapun agar dapat membantu membangitkan hidup mereka.”