Inalum Targetkan Kapasitas Produksi Aluminium Capai 300.000 Ton Untuk Tahun pada 2026
Melex.id . PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) mengawal program ekspansi. Anggota Grup Penambangan Industry Indonesia (MIND ID) itu berambisi bisa saja meningkatkan kapasitas produksi aluminium hingga 300.000 ton per hari dalam tahun 2026.
Direktur Penguraian Usaha Inalum, Melati Sarnita, menyatakan bahwa peningkatan kapasitas produksi yang dimaksud bertujuan untuk memenuhi permintaan aluminium dalam pasar.
“Sebagai informasi, permintaan total aluminium di area domestik pada waktu ini mencapai 1,2 jt ton per tahun, sementara pada waktu ini Inalum masih sebagai pemasok utama aluminium pada Indonesia dengan kapasitasnya baru mencapai 250 ribu ton per tahun,” ujar Melati untuk Kontan.co.id, Hari Jumat (17/10).
Dalam rencana ekspansi Inalum, penambahan kapasitas produksi aluminium dari 250 ribu menjadi 300 ribu direncanakan lewat tambahan 25 ribu dari Proyek Pot Optimalisasi juga 25 ribu dari Proyek Pot Upgrading yang mana pada waktu ini sedang berjalan.
Selain meningkatkan prasarana eksisting, Inalum juga juga berencana untuk meningkatkan kapasitas dengan penambahan 600.000 ton per tahun (ktpa) smelter baru di dalam Kuala Tanjung, juga melanjutkan proyek Alumina refinery expansion (SGAR) fase 2 di tempat Mempawah Kalimantan Barat.
“Saat ini di fase persiapan FID (final investment decision), yang direncanakan pada kuartal II 2024,” kaa Melati.
Melati tiada merinci berapa anggaran yang mana disiapkan untuk membiayai program ekspansi perusahaan. Yang terang, ia mengonfirmasi bahwa sumber pendanaannya berasal dari kas internal Inalum.
“Peningkatan kapasitas produksi ini menggunakan sumber pendanaan internal Inalum,” pungkas Melati.
Sejalan dengan penuturan Melati, permintaan aluminium di area di negeri memang benar melampaui kapasitas produksi domestik. Fakta Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indonesia masih mengimpor banyak ribu ton aluminium dan juga barang daripadanya per tahun, setidaknya di area lima tahun terakhir. Kuantitas impornya tembus US$ 1 miliar saban tahun.
Secara terperinci, besar impor aluminium lalu barang daripadanya di tempat 5 tahun terakhir berdasarkan data BPS secara berturut-turut ialah sebesar 814.363,36 ton (atau senilai US$ 2,17 miliar) pada 2018, 750.070,71 ton (US$ 1,89 miliar) pada 2019, 606.730,26 ton (US$ 1,41 miliar) di area 2020, 722.711,86 ton (US$ 2,08 miliar) di area 2021, juga 713,821,98 ton (US$ 2,36 miliar) pada 2022.
Dus, Indonesia secara kumulatif sudah pernah mengimpor 3,60 jt ton aluminium juga barang daripadanya selama 2018-2023 dengan total nilai impor US$ 9,92 miliar selama 2018-2022.
Barangkali, bukanlah tanpa alasan Indonesia masih mengimpor aluminium. Selain sebab permintaan yang tinggi, ada pula persoalan keterbatasan kapasitas pengolahan dalam tingkat hulu.
Berdasarkan data Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), sumber daya bauksit yang dimaksud besar yaitu 6,2 miliar ton, sementara cadangannya sebesar 3,2 miliar ton. Dengan hitungan sumber daya tersebut, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memperkirakan daya tahan cadangan bauksit sanggup mencapai lebih banyak dari 100 tahun dengan asumsi tingkat kebutuhan pada waktu ini.
Itulah sebabnya, produksi tahunan bauksit Indonesia bisa jadi mencapai hingga 60 jt ton per tahun. Hanya saja, kapasitas input dalam di negeri untuk mengolah/memurnikan bauksit menjadi alumina, yakni senyawa yang mana dapat diolah lebih banyak lanjut menjadi aluminium, masih terbatas.
Ketua Umum (Ketum) Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, menyatakan bahwa ketika ini pengolahan bijih bauksit dalam di negeri terdiri melawan Smelter Grade Alumina (SGA) dengan total kapasitas input 12 jt ton per tahun juga smelter Chemical Grade Alumina (CGA) dengan total kapasitas input 1-2 jt ton per tahun.
Dengan demikian, infrastruktur pengolahan bijih bauksit di tempat di negeri baru mampu mengangkat 13 jt ton – 14 jt ton bijih bauksit per tahun. Itulah sebabnya, penanaman modal pengembangan smelter menjadi penting untuk memaksimalkan prospek bijih bauksit di dalam pada negeri.
“(Kapasitas pengolahan bauksit) belum dapat (menampung produksi tahunan bijih bauksit) sepanjang belum ada smelter baru,” kata Ronald terhadap Kontan.co.id, Rabu (15/11).
Sumber : Kontan.co.id
