Kurikulum Merdeka Dukung Anak Kenali Minat serta Bakat Sejak Dini
Melex.id Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan juga Teknologi (Kemendikbudristek) terus meningkatkan kekuatan kebijakan Merdeka Belajar, untuk menyediakan akses yang dimaksud adil terhadap lembaga pendidikan berkualitas. Salah satunya melalui peluncuran Kurikulum Merdeka pada kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-15.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan juga Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo mengatakan, pembaharuan utama yang tersebut dihadirkan Kurikulum Merdeka, yakni mengutamakan materi pembelajaran yang dimaksud esensial, diharapkan dapat menggalakkan perkembangan anak berdasarkan minat juga bakat yang digunakan dimiliki.
“Melalui Kurikulum Merdeka, guru tiada dibebani dengan terlalu berbagai materi sehingga dapat lebih lanjut fokus pada proses pembelajaran. Guru juga memperoleh fleksibilitas untuk menyesuaikan pembelajaran dengan keperluan belajar murid. Dengan demikian murid pun dapat menggali minat lalu bakatnya lebih besar mendalam,” kata Anindito Aditomo.
Anindito juga menjelaskan, pembaharuan kurikulum tidak sekadar inovasi administrasi semata, melainkan sebagai upaya untuk mentransformasi sekolah menjadi tempat di area mana semua anak, apapun minat juga bakat maupun peluang kecerdasan dia sanggup merasa diterima, dirawat, kemudian ditantang untuk bertambah menjadi versi terbaik dari diri mereka.
Hal senada disampaikan Plt Kepala Pusat Kurikulum serta Pembelajaran Kemendikbudristek, Zulfikri Anas Kurikulum Merdeka merupakan alat bantu bagi kontestan didik agar berkembang juga berprogres sesuai dengan fitrah juga potensinya.
“Kurikulum Merdeka sebagai alat bantu tentunya memudahkan bagi guru di mendampingi anak-anak kemudian memudahkan partisipan didik untuk mengenali lalu mengembangkan potensinya sejak dini,” jelas Zulfikri.
Zulfikri mengungkapkan fokus terhadap materi esensial menjadi kekuatan dari Kurikulum Merdeka. Hal yang dimaksud meluruskan persepsi selama ini yang tersebut menganggap bahwa kurikulum yang dimaksud unggul, diukur berdasarkan banyaknya materi yang tersebut disampaikan untuk anak.
“Kekuatan sebuah kurikulum bukanlah terletak dari banyaknya materi yang digunakan disampaikan juga diserap oleh anak, tetapi lebih banyak untuk kemampuan kurikulum itu memberikan kekuatan terhadap anak menghadapi persoalan ke depan,” tutup Zulfikri.
“Saat ini, Kurikulum Merdeka telah terjadi diimplementasikan secara sukarela oleh lebih tinggi dari 80 persen satuan sekolah dalam Indonesia,” tambah Anindito.
Sumber : suara.com
