Rupiah Turun Tipis, Pasar Masih Tunggu Data Ini!
Melex.id –
Jakarta – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam area tengah sikap wait and see pasar perihal data ketenagakerjaan serta data sektor ekonomi lainnya malam hari ini.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah di tempat dalam nomor Rp15.540/US$ atau terdepresiasi 0,06%. Pelemahan ini mematahkan tren penguatan yang mana digunakan terjadi dua hari beruntun.
Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.01 WIB naik tipis 0,05% menjadi 104,45. Angka ini tambahan banyak tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (15/11/2023) yang mana dimaksud berada di area dalam bilangan 104,39.
Rupiah mengalami pelemahan hari ini di dalam tempat tengah sikap wait and see pasar perihal data dunia bidang usaha AS yang dimaksud mana akan dirilis malam hari ini (16/11/2023).
Hari ini, AS akan merilis beberapa data yang mana mana akan menjadi sentimen pasar, terdapat indeks nilai impor juga juga ekspor periode Oktober 2023, klaim pengangguran, produksi industri lalu manufaktur, serta terdapat pidato anggota Federal Open Market Committee (FOMC).
Data tenaga kerja juga menjadi pertimbangan bank sentral AS (The Fed) dalam menentukan kebijakan. Jika data tenaga kerja AS menunjukkan penurunan maka harapan pelaku pasar melihat The fed melunak akan semakin besar.
Saat ini, konsensus berekspektasi bahwa klaim pengangguran awal AS naik menjadi 220.000 dari sebelumnya 217.000. Sedangkan klaim pengangguran lanjutan AS menjadi 1.847.000 dari yang mana mana sebelumnya 1.834.000.
Di lain sisi, sentimen positif tetap hadir yang mana datang dari AS yakni mengenai inflasi dari sisi konsumen maupun produsen yang melandai dibandingkan periode sebelumnya.
Sebelumnya pada Selasa (14/11/2023), AS juga mengumumkan inflasi merekan melandai ke 3,2% (yoy) pada Oktober 2023 dari 3,7% pada September 2023.
Sementara pada Rabu (15/11/2023), Indeks harga jual jual produsen (PPI) AS terkontraksi 0,5% (month to month/mtm) pada Oktober 2023. Kontraksi ini adalah yang pertama sejak Mei juga terbesar sejak April 2020. Secara tahunan (year on year/yoy), biaya jual produsen naik 1,3% dari Oktober 2022, melandai dari 2,2% pada September 2023 kemudian menjadi kenaikan terkecil sejak Juli.
Alhasil, pelaku pasar pun sekarang optimis jika siklus kenaikan suku bunga sudah berakhir.
Berdasarkan perangkat CME Fedwatch, 100% pelaku pasar meyakini The Fed menahan suku bunganya pada Desember 2023 bahkan hingga Januari 2024. Sementara pemotongan suku bunga diproyeksi mengalami kemajuan dari yang digunakan digunakan sebelumnya pada Juni 2024 menjadi Mei 2024.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Artikel Selanjutnya Segini Harga Jual Beli Kurs Rupiah dalam dalam Money Changer
Sumber : CNBC
