UMKM Pelipur Lara Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga
Melex.id – Inna Pertiwi tiada pernah membayangkan bisnis yang dimaksud ia rintis dengan sederhana mampu menjadi pelita bagi segelintir orang yang digunakan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dibangun sejak 21 tahun silam, Inna merintis Rumah Jahit Kaina sebagai tempat ia menyalurkan hobi kemudian kreasi, khusus untuk kepuasan diri sendiri kemudian orang-orang terdekatnya.
Mesin jahit hadiah dari suami, Inna yang digunakan merasa belum memiliki ilmu mumpuni memilih untuk belajar secara otodidak, tanpa modal. Jikalau ada, mungkin modal bensin yang digunakan digunakan untuk diskusi bersama beberapa orang terkait teknik menjahit.
Perlahan tapi pasti, bisnis yang kemudian dinamai Rumah Jahit Kaina itu mulai dikenal masyarakat. Semakin banyak orang yang digunakan datang untuk menciptakan pakaian atau sekedar permak. Tidak hanya saja tetangga sekitar rumahnya, pelanggan yang datang kadang berasal dari kota yang mana berbeda dari tempat Inna tinggal.
“Awalnya dari mulut ke mulut sampai sekarang dikenal sampai dalam luar Pulau Jawa,” kata Inna saat diwawancarai Redaksi Suara.com, beberapa saat lalu.
Kualitas yang digunakan ditawarkan Rumah Jahit Kaina terus menyebar dari mulut ke mulut. Inna yang mana awalnya hanya sekali ingin menyalurkan hobinya lantas diminta untuk menularkan ilmunya kepada orang lain.
“Diminta membuka pelatihan. awalnya, saya agak keberatan sebab saya sendiri juga masih belajar,” ujar Inna.
Bekal semangat membantu sesama, Inna sekarang tidak ada hanya saja menjadi penjahit yang dimaksud berkarya melalui kain-kain tapi juga tangan-tangan dia yang dimaksud ia ajari berkarya dengan mesin jahit.
Memberdayakan Perempuan
Usahanya yang dimaksud berkembang pesat menciptakan Inna tiada belaka membuka pelatihan. Tapi juga mempersilakan para peserta didiknya untuk meminjam mesin jahit darinya agar mereka itu bisa saja mengumpulkan pundi-pundi uang dari rumah.
“Asal digunakan untuk mencari rejeki yang halal, silahkan dipakai,” kata dia mengenang kembali masa-masa di area mana dirinya mengupayakan orang-orang di dalam sekitarnya.
Peserta didik Rumah Jahit Kaina yang mana berlokasi di tempat Bromonilan, Kecamatan Kalasan, Sleman itu tidaklah cuma para puan yang tinggal di dalam sekitarnya.
Para peserta didik itu berasal dari berbagai golongan, mulai dari buruh garmen hingga ibu rumah tangga yang mana ingin berdaya sembari mengasuh anaknya pada rumah.
Inna senantiasa menanamkan nilai kemanusiaan dalam setiap pengajaran menjahit. Tidak hanya saja mengajarkan nilai ikhlas dan juga kemandirian kepada anak didik, melainkan juga pada dirinya sendiri.
“Saya selalu berusaha berniat membantu siapa saja, tanpa terkecuali,” ungkapnya.
Inna merasa bersyukur dirinya tidaklah belaka menjadi manusia penjahit untuk menghidupi ia serta keluarganya tapi juga bisa jadi ‘menolong’ ibu-ibu lain yang digunakan membutuhkan penghasilan.
Ia masih mengingat ketika Rumah Jahit Kaina menerima beberapa ibu rumah tangga yang digunakan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh orang terdekatnya.
“Dulu, ada lima orang yang mana saya ajari dari nol. Dua orang diantaranya merupakan korban KDRT yang dilaksanakan suaminya. Karena saya dulu pernah gabung jadi relawan bantu korban KDRT, jadi punya informasi cukup terkait perkembangan kasus ini,” ungkap Inna, kembali meneropong masa-masa kala Rumah Jahit Kaina jadi ‘tempat bernaung’ para korban KDRT itu.
Dua perempuan yang tersebut menjadi korban KDRT mengikuti program belajar dalam Rumah Jahit Kaina selama kurang lebih besar tiga tahun. Selama masa pembelajaran, keduanya tidaklah hanya saja diajarkan keterampilan berwirausaha, tetapi juga diberikan dukungan untuk menyembuhkan trauma akibat kekerasan yang tersebut mereka alami di tempat masa lalu melalui diskusi bersama psikiater dan juga terus berkarya.
Rumah Jahit Kaina berusaha keras agar para korban terus bisa jadi berkembang untuk diri merekan sendiri, terutama akibat pada saat itu suami mereka sedang dipenjara. Ada keresahan bahwa membiarkan korban KDRT tinggal sendirian dapat berdampak buruk pada kesehatan mental mereka di dalam masa depan.
Inna, pengelola Rumah Jahit Kaina, merasa bersyukur dikarenakan bertemu dengan kedua perempuan tersebut. Mereka bukan hanya sekali belajar banyak dalam hal keterampilan kerja, tetapi juga mengatasi hambatan kehidupan. Salah satu dari mereka, yang dimaksud diakui cekatan dalam bekerja, pada masa kini telah lama bekerja sebagai penjahit di dalam Jepang selama empat tahun.
“Mendapatkan kehidupan yang baik, Alhamdulillah. Rekan kerja serta bosnya baik, lalu dia betah tinggal di area sana. Namun, sayangnya, satu orang lainnya telah lama meninggal dunia. Saya sangat bersedih ketika itu terjadi,” kenang Inna.
Inna senantiasa mengingat, kapan hanya dirinya mampu membantu para korban KDRT tanpa terkecuali. Para korban, menurut dia, harus selalu mendapatkan pendampingan dan juga aktivitas rutin yang dimaksud memberdayakan korban sehingga, dengan kangkah-langkah yang tersebut tepat, mereka mampu bangkit dari keterpurukan.
Berkembang Melalui Komunitas
Rumah Jahit Kaina adalah satu dari sekian banyak contoh bidang usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mampu berkembang sekaligus turut berperan pada tengah masyarakat.
Perkembangan Rumah Jahit Kaina hingga saat ini bukan lepas dari dukungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui UMKM BRIncubator.
Inna selaku sosok yang dimaksud berperan vital dalam Rumah Jahit Kaina mengatakan, di dalam BRIncubator, ia belajar berbagai hal yang digunakan membantu usahanya itu berkembang lebih banyak jauh.
“Saya cukup banyak belajar pada sana. Terutama dalam mengelola keuangan usaha. Sebagai pelaku usaha kecil, cukup banyak ilmu yang mana saya terima dari workshop yang tersebut diadakan,” kata Inna Pertiwi.
BRIncubator adalah program persembahan dari BRI yang mana berorientasi membantu UMKM dengan membuka prospek akses pembiayaan lalu peningkatan kapasitas serta kapabilitas usaha secara digital sehingga mampu menembus pasar ekspor secara luas.
Inna memahami, para penjahit yang dimaksud tergabung dalam Rumah Jahit Kaina mayoritas adalah ibu rumah tangga yang mana sibuk dengan urusan rumah tangga.
Guna memudahkan pekerjaan tanpa mengganggu pekerjaan rumah. Rumah Kaina miliki grup Whatsapp yang mana berisi para anggota.
“Komunitas kami juga punya grub Whatsapp yang mana berisi saling sharing pesanan. Saya berikan pesanan penjahit nanti disebar melalui grup juga merek kerjakan, jadi makin gampang,” kata dia.
Inna memahami betul kesulitan yang digunakan dihadapi ibu-ibu dengan tanggung jawab anak lalu rumah tangga mereka. Dengan adanya penugasan-penugasan yang digunakan dikirim melalui Whatsapp, para penjahit yang digunakan tergabung dalam komunitas bukan perlu lagi datang ke Rumah Jahit Kaina tapi bisa jadi mengerjakan tugasnya dari rumah masing-masing.
Saat ini, Kaina memiliki anggota komunitas mencapai puluhan orang yang tersebut mayoritas merupakan ibu rumah tangga.
Melalui komunitas Rumah Jahit Kaina, Inna berharap, para perempuan terutama ibu rumah tangga untuk tetap berdaya juga berkarya agar mampu mandiri, tidaklah terkecuali dalam keuangan.
“Fokus dengan bisnis yang mana sekarang dijalankan. Naik turun perusahaan itu fenomena biasa juga menerbitkan wawasan seluas-luasnya dikarenakan ilmu itu terus berkembang, bukan terkecuali dalam ilmu jahit. Terakhir, jangan anti-kritik, kritik itu dibutuhkan agar kita bisa saja terus berkembang” kata dia.
Untuk urusan omzet, Rumah Kaina mampu menerima order hingga 700 pesanan dengan hasil penjualan mencapai jutaan rupiah tiap bulannya.
“Tidak besar. Tapi, kami bersyuku Rumah Kaina bisa jadi menjadi ‘rumah’ bagi dia yang dimaksud membutuhkan,” pungkas Inna.
Sumber : suara.com
