15.000 Ilmuwan Kompak Teriak Bumi Kiamat, Jadwalnya Sudah Ada
Jakarta – Efek buruk oleh sebab itu inovasi iklim di planet bumi semakin nyata, para ilmuwan kembali memperingatkannya. Menurut mereka, iklim pada Bumi berubah dengan cepat dan juga dapat mengakibatkan bencana global yang digunakan sangat besar pada akhir abad ini.
Sebuah makalah baru diterbitkan di jurnal BioScience juga sudah pernah ditandatangani sama-sama oleh lebih besar dari 15.000 ilmuwan dalam 161 negara.
Belasan ribu ilmuwan yang dimaksud mengingatkan bahwa keberadaan di dalam Bumi sedang terancam juga melakukan pergerakan makin cepat menuju ‘kiamat’.
“Selama beberapa dekade, para ilmuwan secara tegas menyampaikan peringatan masa depan yang mana ditandai dengan keadaan iklim ekstrem lantaran meningkatnya suhu global yang tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia yang mana melegakan gas rumah kaca berbahaya ke atmosfer,” tulis makalah tersebut, dikutipkan dari Futurism, Hari Sabtu (23/3/2023).
“Sayang, waktunya telah habis,” imbuh penelitian tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, peneliti pascadoktoral Oregon State University (OSU) kemudian salah satu penulis utama studi Christopher Wolf menyampaikan makalah yang dimaksud sambil mengungkap strategi mitigasi yang dimaksud besar.
“Kita sedang menuju kemungkinan runtuhnya sistem alam kemudian sosial-ekonomi serta bola dengan panas yang dimaksud tak tertahankan dan juga kekurangan sumber daya alam, makanan kemudian air bersih,” kata Wolf.
Dalam studi tersebut, postdoc OSU lalu 11 rekan penulis lainnya memasukkan banyak poin data mengejutkan yang tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2023, banyak rekor iklim dipecahkan dengan margin yang digunakan sangat besar.
Para penulis menunjuk secara khusus seperti musim kebakaran hutan Kanada yang mana sangat terlibat tahun ini. Peneliti mengungkapkan bahwa kejadian ini menunjukkan titik kritis menuju rezim kebakaran baru, yang dapat dibilang merupakan salah satu kalimat akademis paling menakutkan yang mana pernah ditulis.
Profesor kehutanan terkemuka di dalam OSU, William Ripple, yang tersebut merupakan salah satu penulis penelitian ini, menambahkan bahwa tahun ini telah terjadi mengakibatkan pola yang digunakan sangat mengkhawatirkan. Pola yang disebutkan tentu tidak kabar yang tersebut menggembirakan, sebab manusia hanya saja berbuat sedikit untuk memperbaiki keadaan.
“Kami juga semata-mata menemukan sedikit kemajuan yang digunakan mampu dilaporkan terkait upaya umat manusia di memerangi pembaharuan iklim,” kata Ripple di pernyataannya.
Seperti sejumlah ilmuwan sebelumnya, 12 penulis studi juga ribuan penandatangan studi yang dimaksud tidak ada semata-mata menunjuk pada sektor substansi bakar fosil yang sangat berpolusi. Tetapi juga perwakilan pemerintah yang tersebut mensubsidi mereka itu sebagai salah satu akar pemicu efek bola salju iklim ini.
Menurut makalah tersebut, antara tahun 2021 juga 2022, subsidi materi bakar fosil meningkat dua kali lipat dari US$531 miliar berubah jadi lebih besar dari US$1 triliun. Perlu dicatat bahwa jumlah keseluruhan yang dimaksud semata-mata terbentuk pada Amerika Serikat, belum negara yang mana lain.
“Kita harus mengubah perspektif kita mengenai darurat iklim dari sekedar isu lingkungan hidup yang terisolasi berubah jadi ancaman yang dimaksud sistemik juga eksistensial,” tulis para penulis makalah tersebut.
Peneliti mengatakan, beralih dari unsur bakar fosil, dan juga memerangi konsumsi berlebihan oleh orang-orang kaya adalah hal yang tersebut harus dilakukan.
Dua hal pertama itu wajib diwujudkan untuk menghindari bencana lebih tinggi lanjut sebelum abad ke-21 berakhir pada 2100 mendatang atau 77 tahun lagi.
Artikel Selanjutnya 15.000 Ilmuwan Ungkap Jadwal Kiamat Bumi, Berani Baca?
Artikel ini disadur dari 15.000 Ilmuwan Kompak Teriak Bumi Kiamat, Jadwalnya Sudah Ada
